MAKALAH
PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
NAMA :
??????????
NIP :
??????????
KATA PENGANTAR
Puji
syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya,
sehingga
makalah ini dapat terselesaikan. Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk
memenuhi tugas DUPAK dalam kenaikan pangkat.
Sehubungan
dengan penyelesaian penelitian sampai dengan tersusunnya makalah ini, dengan
rasa rendah hati disampaikan rasa terimakasih yang setulustulusnya Semoga amal
baik dari semua pihak mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amin.
Disadari
bahwa makalah ini masih kurang sempurna oleh karena itu, kritik dan saran dari
semua pihak sangat diharapkan guna penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah
ini dapat bermanfaat.
Namang,
September 2012
Penyusun
DAFTAR ISI
JUDUL ....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang ..................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah ................................................................. 3
1.3
Tujuan ................................................................................... 4
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Pengertian Asi Eksklusif
...................................................... 5
2.2 Bagaimana Mencapai Asi Eksklusif
..................................... 5
2.3 Kesalahpahaman Mengenai Asi
Eksklusif ............................ 6
2.4 Kebaikan Asi dan Menyusui
................................................ 6
2.5 Manfaat Asi Untuk
Bayi ...................................................... 7
2.6 Proses Terbentuknya Asi ...................................................... 8
BAB III PEMBAHASAN
3.1
Defenisi Asi .......................................................................... 23
3.2
Motivasi untuk menyusui. .................................................... 26
3.3
Keterampilan Menyusui ........................................................ 27
3.4
Tanda Cukup Asi .................................................................. 29
3.5
Tips Sukses Asi Eksklusif ..................................................... 30
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
4.1
Kesimpulan ........................................................................... 32
4.2
Saran ..................................................................................... 32
Daftar Pustaka
PEMBERIAN
ASI EKSKLUSIF
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan salah satu aspek
dari kehidupan masyarakat mutu hidup, produktifitas tenaga kerja, angka
kesakitan dan kematian yang tinggi pada bayi dan anak-anak, menurunnya daya
kerja fisik serta terganggunya perkembangan mental adalah akibat langsung atau
tidak langsung dari masalah gizi kurang.
Sebagaimana diketahui bahwa salah satu
masalah gizi yang paling utama pada saat ini di Indonesia adalah kurang kalori,
protein hal ini banyak ditemukan bayi dan anak yang masih kecil dan sudah
mendapat adik lagi yang sering disebut “kesundulan” artinya terdorong lagi oleh
kepala adiknya yang telah muncul dilahirkan. Keadaan ini karena anak dan bayi
merupakan golongan rentan.
Terjadinya kerawanan gizi pada bayi
disebabkan karena selain makanan yang kurang juga karena Air Susu Ibu (ASI)
banyak diganti dengan susu botol dengan cara dan jumlah yang tidak memenuhi
kebutuhan. Hal ini pertanda adanya perubahan sosial dan budaya yang negatif
dipandang dari segi gizi Pertumbuhan dan perkembangan bayi sebagian besar
ditentukan oleh jumlah ASI yang diperoleh termasuk energi dan zat gizi lainnya
yang terkandung di dalam ASI tersebut. ASI tanpa bahan makanan lain dapat
mencukupi kebutuhan pertumbuhan sampai usia sekitar empat bulan. Setelah itu
ASI hanya berfungsi sebagai sumber protein vitamin dan mineral utama untuk bayi
yang mendapat makanan tambahan yang tertumpu pada beras.
Dalam pembangunan bangsa, peningkatan
kualitas manusia harus dimulai sedini mungkin yaitu sejak dini yaitu sejak
masih bayi, salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan
kualitas manusia adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI). Pemberian ASI semaksimal
mungkin merupakan kegiatan penting dalam pemeliharaan anak dan persiapan
generasi penerus di masa depan. Akhir-akhir ini sering dibicarakan tentang
peningkatan penggunaan ASI.
Dukungan politis dari pemerintah terhadap
peningkatan penggunaan ASI termasuk ASI EKSLUSIF telah memadai, hal ini
terbukti dengan telah dicanangkannya Gerakan Nasional Peningkatan Penggunaan
Air Susu Ibu (GNPP-ASI) oleh Bapak Presiden pada hari Ibu tanggal 22 Desember
1990 yang betemakan “Dengan Asi, kaum ibu mempelopori peningkatan kualitas
manusia Indonesia”. Dalam pidatonya presiden menyatakan juga bahwa ASI sebagai
makanan tunggal harus diberikan sampai bayi berusia empat bulan.Pemberian ASI
tanpa pemberiaan makanan lain ini disebut dengan menyusui secara ekslusif.
Selanjutnya bayi perlu mendapatkan makanan pendamping ASI kemudian pemberian
ASI di teruskan sampai anak berusia dua tahun. ASI merupakan makanan yang
bergizi sehingga tidak memerlukan tambahan komposisi. Disamping itu ASI mudah
dicerna oleh bayi dan langsung terserap.
Diperkirakan 80% dari jumlah ibu yang
melahirkan ternyata mampu menghasilkan air susu dalam jumlah yang cukup untuk
keperluan bayinya secara penuh tanpa makanan tambahan. Selama enam bulan
pertama. Bahkan ibu yang gizinya kurang baikpun sering dapat menghasilkan ASI
cukup tanpa makanan tambahan selama tiga bulan pertama.
ASI sebagai makanan yang terbaik bagi
bayi tidak perlu diragukan lagi, namun akhir-akhir ini sangat disayangkan
banyak diantara ibu-ibu meyusui melupakan keuntungan menyusui. Selama ini
dengan membiarkan bayi terbiasa menyusu dari alat pengganti, padahal hanya
sedikit bayi yang sebenarnya menggunakan susu botol atau susu formula. Kalau
hal yang demikian terus berlangsung, tentunya hal ini merupakan ancaman yang
serius terhadap upaya pelestarian dari peningkatan penggunaan ASI.
Hasil penelitian yang dilakukan di Biro
Konsultasi Anak di Rumah Sakit UGM Yogyakarta tahun 1976 menunjukkan bahwa anak
yang disusui sampai dengan satu tahun 50,6%. Sedangkan data dari survei
Demografi Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 1991 bahwa ibu, yang memberikan ASI
pada bayi 0-3 bulan yaitu 47% diperkotaan dan 55% dipedesaan (Depkes 1992) dari
laporan SKDI tahun 1994 menunjukkan bahwa ibu-ibu yang memberikan ASI EKSLUSIF
kepada bayinya mencapai 47%, sedangkan pada repelita VI ditargetkan 80%.
Dari hasil penelitian yang dilakukan
oleh Dr.Moh. Efendi di R.S. Umum Dr. Kariadi Semarang tahun 1977 didapatkan
pemberian ASI setelah umur 2 bulan 31,6%, ASI + Susu botol 15,8% dan susu botol
52,6%. Sedangkan sebelumnya yaitu pada umur 1 bulan masih lebih baik yaitu
66,7% ASI dan 33,3% susu botol, dalam hal ini tampaknya ada pengaruh susu botol
lebih besar.
Juga hasil penelitian Dr. Parma dkk di
Rumah Sakit Umum Dr. M. Jamil Padang tahun 1978 -1979 di dapatkan bahwa lama
pemberian ASI saja sampai 4-6 bulan pada ibu yang karyawan adalah 12,63% dan
pada ibu rumah tangga sebanyak 21,27%. Apabila dilihat dari pendidikannya
ternyata 75% dari ibu-ibu yang berpendidikan tamat SD telah memberikan makanan
pendamping ASI yang terlalu dini pada bayi.
Berbagai alasan dikemukakan oleh ibu-ibu
mengapa keliru dalam pemanfaatan ASI secara Eksklusif kepada bayinya, antara
lain adalah produksi ASI kurang, kesulitan bayi dalam menghisap, keadaan puting
susu ibu yang tidak menunjang, ibu bekerja, keinginan untuk disebut modern dan
pengaruh iklan/promosi pengganti ASI dan tdak kalah pentingnya adalah anggapan
bahwa semua orang sudah memiliki pengetahuan tentang manfaat ASI .
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah
dikemukakan maka rumusan masalah dalam penulisan ini adalah bagaimana pemberian
ASI secara eksklusif saai umur bayi 4 bulan dan faktor-faktor apa yang
mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif.
1.3 Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Tujuan
umum dari penulisan ini adalah untuk mengetahui pemberian ASI
EKSKLUSIF dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
2. Tujuan Khusus.
- Mengetahui cara pemberian ASI
EKSLUSIF pada bayi
- Mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi pemberian ASI pada bayi usia 4 bulan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Asi Eksklusif
Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi
lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam anorganik yang sekresi
oleh kelenjar mamae ibu, yang berguna sebagai makanan bagi bayinya. ASI
eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada
bayi berumur nol sampai enam bulan. Bahkan air putih tidak diberikan dalam
tahap ASI eksklusif ini.
ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan
terbaik pada bayi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan
pertama. ASI merupakan makanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi
sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal. Pada tahun 2001 World
Health Organization / Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa ASI eksklusif
selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. Dengan demikian,
ketentuan sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak
berlaku lagi.
2.2 Bagaimana Mencapai Asi Eksklusif
WHO dan UNICEF merekomendasikan
langkah-langkah berikut untuk memulai dan mencapai ASI eksklusif yaitu dengan
menyusui dalam satu jam setelah kelahiran Menyusui secara ekslusif: hanya ASI.
Artinya, tidak ditambah makanan atau minuman lain, bahkan air putih sekalipun.
Menyusui kapanpun bayi meminta (on-demand), sesering yang bayi mau, siang dan
malam. Tidak menggunakan botol susu maupun empeng.
Mengeluarkan ASI dengan memompa atau memerah dengan tangan, disaat tidak bersama anak serta mengendalikan emosi dan pikiran agar tenang.
Mengeluarkan ASI dengan memompa atau memerah dengan tangan, disaat tidak bersama anak serta mengendalikan emosi dan pikiran agar tenang.
2.3 Kesalahpahaman Mengenai Asi
Eksklusif
Setelah ASI ekslusif enam bulan
tersebut, bukan berarti pemberian ASI dihentikan. Seiiring dengan pengenalan
makanan kepada bayi, pemberian ASI tetap dilakukan, sebaiknya menyusui dua
tahun menurut rekomendasi WHO
2.4 Kebaikan Asi dan Menyusui
ASI sebagai makanan bayi mempunyai kebaikan/sifat
sebagai berikut:
a. ASI merupakan makanan alamiah yang
baik untuk bayi, praktis, ekonomis, mudah dicerna untuk memiliki komposisi, zat
gizi yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pencernaan bayi.
b. ASI mengadung laktosa yang lebih
tinggi dibandingkan dengan susu buatan.
Didalam usus laktosa akan dipermentasi
menjadi asam laktat. yang bermanfaat untuk:
* Menghambat pertumbuhan bakteri
yang bersifat patogen.
* Merangsang pertumbuhan
mikroorganisme yang dapat menghasilkan asam organik dan mensintesa beberapa
jenis vitamin.
* Memudahkan terjadinya pengendapan
calsium-cassienat.
* Memudahkan penyerahan herbagai
jenis mineral, seperti calsium,
magnesium.
magnesium.
c. ASI mengandung zat pelindung
(antibodi) yang dapat melindungi bayi selama 5-6 bulan pertama, seperti:
Immunoglobin, Lysozyme, Complemen C3 dan C4, Antistapiloccocus, lactobacillus,
Bifidus, Lactoferrin.
d. ASI tidak mengandung
beta-lactoglobulin yang dapat menyebabkan alergi pada bayi.
e. Proses pemberian ASI dapat
menjalin hubungan psikologis antara ibu dan bayi.
Selain memberikan kebaikan bagi bayi, menyusui
dengan bayi juga dapat memberikan keuntungan bagi ibu, yaitu:
a. Suatu rasa kebanggaan dari ibu,
bahwa ia dapat memberikan “kehidupan” kepada bayinya.
b. Hubungan yang lebih erat
karena secara alamiah terjadi kontak kulit yang erat, bagi perkembangan psikis
dan emosional antara ibu dan anak.
c. Dengan menyusui bagi rahim ibu
akan berkontraksi yang dapat menyebabkan pengembalian keukuran sebelum hamil
d. Mempercepat berhentinya
pendarahan post partum.
e. Dengan menyusui maka kesuburan ibu
menjadi berkurang untuk beberpa bulan (menjarangkan kehamilan)
f. Mengurangi kemungkinan kanker
payudara pada masa yang akan datang.
g. Menambah panjang kembalinya kesuburan
pasca melahirkan, sehingga
h. Memberi jarak antar anak yang
lebih panjang alias menunda kehamilan berikutnya
i. Karena kembalinya menstruasi
tertunda, ibu menyusui tidak membutuhkan zat besisebanyak ketika mengalami
menstruasi
j. Ibu lebih cepat langsing.
Penelitian membuktikan bahwa ibu menyusui enam bulan lebih langsing setengah kg
dibanding ibu yang menyusui empat bulan.
2.5 Manfaat Asi Untuk
Bayi
Pemberian ASI merupakan metode pemberian
makan bayi yang terbaik, terutama pada bayi umur kurang dari 6 bulan, selain
juga bermanfaat bagi ibu. ASI mengandung semua zat gizi dan cairan yang
dibutuhkan untuk memenuhi seluruh gizi bayi pada 6 bulan pertama kehidupannya.Pada
umur 6 sampai 12 bulan, ASI masih merupakan makanan utama bayi, karena
mengandung lebih dari 60% kebutuhan bayi. Guna memenuhi semua kebutuhan bayi,
perlu ditambah dengan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).
Setelah umur 1 tahun, meskipun ASI hanya
bisa memenuhi 30% dari kebutuhan bayi, akan tetapi pemberian ASI tetap
dianjurkan karena masih memberikan manfaat. ASI disesuaikan secara unik bagi
bayi manusia, seperti halnya susu sapi adalah yang terbaik untuk sapi.
2.6 Proses Terbentuknya Asi
Tahapan-tahapan yang terjadi dalam proses laktasi mencakup :
Tahapan-tahapan yang terjadi dalam proses laktasi mencakup :
1. Mammogenesis : Terjadi pertumbuhan
payudara baik dari ukuran maupun berat dari payudara mengalami peningkatan.
2. Laktogenesis :
·
Tahap 1 (kehamilan akhir) : Sel alveolar
berubah menjadi sel sekretoris
·
Tahap 2 (hari ke-3 hingga ke-8
kelahiran) : Mulai terjadi sekresi susu, payudara menjadi penuh dan hangat.
Kontrol endokrin beralih menjadi autokrin.
3. Galaktopoiesis
4. Involution Komposisi ASI ideal
untuk bayi
Dokter sepakat bahwa ASI mengurangi
resiko infeksi lambung-usus, sembelit, dan alergi.Bayi ASI memiliki kekebalan
lebih tinggi terhadap penyakit. Contohnya, ketika si ibu tertular penyakit
(misalnya melalui makanan seperti gastroentretis atau polio), antibodi sang ibu
terhadap penyakit tersebut diteruskan kepada bayi melalui ASI. Bayi ASI
lebih bisa menghadapi efek kuning (jaundice). Level bilirubin dalam darah bayi
banyak berkurang seiring dengan diberikannya kolostrum dan mengatasi
kekuningan, asalkan bayi tersebut disusui sesering mungkin dan tanpa pengganti
ASI.
ASI selalu siap sedia setiap saat bayi
menginginkannya, selalu dalam keadaan steril dan suhu susu yang pas.
Dengan adanya kontak mata dan badan,
pemberian ASI juga memberikan kedekatan antara ibu dan anak. Bayi merasa aman,
nyaman dan terlindungi, dan ini mempengaruhi kemapanan emosi si anak di masa
depan. Apabila bayi sakit, ASI adalah makanan yang terbaik untuk diberikan
karena sangat mudah dicerna. Bayi akan lebih cepat sembuh. Bayi prematur lebih
cepat tumbuh apabila mereka diberikan ASI perah. Komposisi ASI akan teradaptasi
sesuai dengan kebutuhan bayi, dan ASI bermanfaat untuk menaikkan berat badan
dan menumbuhkan sel otak pada bayi prematur.
Beberapa penyakin lebih jarang muncul pada bayi ASI, di antaranya: kolik, SIDS (kematian mendadak pada bayi), eksim, Chron’s disease, dan Ulcerative Colitis. IQ pada bayi ASI lebih tinggi 7-9 point daripada IQ bayi non-ASI. Menurut penelitian pada tahun 1997, kepandaian anak yang minum ASI pada usia 9 1/2 tahun mencapai 12,9 poin lebih tinggi daripada anak-anak yang minum susu formula. Menyusui bukanlah sekadar memberi makan, tapi juga mendidik anak. Sambil menyusui, eluslah si bayi dan dekaplah dengan hangat. Tindakan ini sudah dapat menimbulkan rasa aman pada bayi, sehingga kelak ia akan memiliki tingkat emosi dan spiritual yang tinggi. Ini menjadi dasar bagi pertumbuhan manusia menuju sumber daya manusia yang baik dan lebih mudah untuk menyayangi orang lain.
Untuk Ibu
Beberapa penyakin lebih jarang muncul pada bayi ASI, di antaranya: kolik, SIDS (kematian mendadak pada bayi), eksim, Chron’s disease, dan Ulcerative Colitis. IQ pada bayi ASI lebih tinggi 7-9 point daripada IQ bayi non-ASI. Menurut penelitian pada tahun 1997, kepandaian anak yang minum ASI pada usia 9 1/2 tahun mencapai 12,9 poin lebih tinggi daripada anak-anak yang minum susu formula. Menyusui bukanlah sekadar memberi makan, tapi juga mendidik anak. Sambil menyusui, eluslah si bayi dan dekaplah dengan hangat. Tindakan ini sudah dapat menimbulkan rasa aman pada bayi, sehingga kelak ia akan memiliki tingkat emosi dan spiritual yang tinggi. Ini menjadi dasar bagi pertumbuhan manusia menuju sumber daya manusia yang baik dan lebih mudah untuk menyayangi orang lain.
Untuk Ibu
1. Hisapan bayi membantu rahim
menciut, mempercepat kondisi ibu untuk kembali ke masa pra-kehamilan dan
mengurangi risiko perdarahan
2. Lemak di sekitar panggul dan paha
yang ditimbun pada masa kehamilan pindah ke dalam ASI, sehingga ibu lebih cepat
langsing kembali
3. Penelitian menunjukkan bahwa ibu
yang menyusui memiliki resiko lebih rendah terhadap kanker rahim dan kanker
payudara.
4. ASI lebih hemat waktu karena tidak
usah menyiapkan dan mensterilkan botol susu, dot, dsb
5. ASI lebih praktis karena ibu bisa
jalan-jalan ke luar rumah tanpa harus membawa banyak perlengkapan seperti
botol, kaleng susu formula, air panas, dsb
6. ASI lebih murah, karena tidak usah
selalu membeli susu kaleng dan perlengkapannya
7. ASI selalu bebas kuman, sementara
campuran susu formula belum tentu steril
Penelitian medis juga menunjukkan bahwa wanita yang menyusui bayinya mendapat manfaat fisik dan manfaat emosional
Penelitian medis juga menunjukkan bahwa wanita yang menyusui bayinya mendapat manfaat fisik dan manfaat emosional
8. ASI tak bakalan basi. ASI selalu
diproduksi oleh pabriknya di wilayah payudara. Bila gudang ASI telah kosong.
ASI yang tidak dikeluarkan akan diserap kembali oleh tubuh ibu. Jadi, ASI dalam
payudara tak pernah basi dan ibu tak perlu memerah dan membuang ASI-nya sebelum
menyusui.
Untuk Keluarga
1. Tidak perlu uang untuk membeli
susu formula, botol susu kayu bakar atau minyak untuk merebus air, susu atau
peralatan.
2. Bayi sehat berarti keluarga
mengeluarkan biaya lebih sedikit (hemat) dalam perawatan kesehatan dan
berkurangnya kekhawatiran bayi akan sakit.
3. Penjarangan kelahiran karena efek
kontrasepsi LAM dari ASI eksklusif.
4. Menghemat waktu keluarga bila bayi
lebih sehat.
5. Memberikan ASI pada bayi
(meneteki) berarti hemat tenaga bagi keluarga sebab ASI selalu siap tersedia.
6. Lebih praktis saat akan bepergian,
tidak perlu membawa botol, susu, air panas, dll.
Untuk Masyarakat dan Negara
1. Menghemat devisa negara karena
tidak perlu mengimpor susu formula dan peralatan lain untuk persiapannya.
2. Bayi sehat membuat negara lebih
sehat.
3. Terjadi penghematan pada sektor
kesehatan karena jumlah bayi sakit lebih sedikit.
4. Memperbaiki kelangsungan hidup anak
dengan menurunkan kematian.
5. Melindungi lingkungan karena tak
ada pohon yang digunakan sebagai kayu bakar untuk merebus air, susu dan
peralatannya.
6. ASI adalah sumber daya yang terus
menerus diproduksi dan baru.
PRODUKSI
ASI
Proses terjadinya pengeluaran air susu
dimulai atau dirangsang oleh isapan mulut bayi pada putting susu ibu. Gerakan
tersebut merangsang kelenjar Pictuitary Anterior untuk memproduksi sejumlah
prolaktin, hormon utama yang mengandalkan pengeluaran Air Susu. Proses
pengeluaran air susu juga tergantung pada Let Down Replex, dimana hisapan
putting dapat merangsang kelenjar Pictuitary Posterior untuk menghasilkan
hormon oksitolesin, yang dapat merangsang serabutotot halus di dalam dinding
saluran susu agar membiarkan susu dapat mengalir secara lancar.
Kegagalan dalam perkembangan payudara secara fisiologis untuk menampung air susu sangat jarang terjadi. Payudara secara fisiologis merupakan tenunan aktif yang tersusun seperti pohon tumbuh di dalam putting dengan cabang yang menjadi ranting semakin mengecil.
Susu diproduksi pada akhir ranting dan mengalir kedalam cabang-cabang besar menuju saluran ke dalam putting. Secara visual payudara dapat di gambarkan sebagai setangkai buah anggur, mewakili tenunan kelenjar yang mengsekresi dimana setiap selnya mampu memproduksi susu, bila sel-sel Myoepithelial di dalam dinding alveoli berkontraksi, anggur tersebut terpencet dan mengeluarkan susu ke dalam ranting yang mengalir ke cabang-cabang lebih besar, yang secara perlahan-lahan bertemu di dalam aerola dan membentuk sinus lactiterous. Pusat dari areda (bagan yang berpigmen) adalah putingnya, yang tidak kaku letaknya dan dengan mudah dihisap (masuk kedalam) mulut bayi.
Kegagalan dalam perkembangan payudara secara fisiologis untuk menampung air susu sangat jarang terjadi. Payudara secara fisiologis merupakan tenunan aktif yang tersusun seperti pohon tumbuh di dalam putting dengan cabang yang menjadi ranting semakin mengecil.
Susu diproduksi pada akhir ranting dan mengalir kedalam cabang-cabang besar menuju saluran ke dalam putting. Secara visual payudara dapat di gambarkan sebagai setangkai buah anggur, mewakili tenunan kelenjar yang mengsekresi dimana setiap selnya mampu memproduksi susu, bila sel-sel Myoepithelial di dalam dinding alveoli berkontraksi, anggur tersebut terpencet dan mengeluarkan susu ke dalam ranting yang mengalir ke cabang-cabang lebih besar, yang secara perlahan-lahan bertemu di dalam aerola dan membentuk sinus lactiterous. Pusat dari areda (bagan yang berpigmen) adalah putingnya, yang tidak kaku letaknya dan dengan mudah dihisap (masuk kedalam) mulut bayi.
Berdasarkan
waktu diproduksi, ASI dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Colostrum
merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mamae yang
mengandung tissue debris dan redual material yang terdapat dalam alveoli dan
ductus dari kelenjar mamae sebelum dan segera sesudah melahirkan anak.
Tentang colostrum
- Disekresi oleh
kelenjar mamae dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat, dari masa laktasi.
- Komposisi colostrum
dari hari ke hari berubah.
- Merupakan cairan
kental yang ideal yang berwarna kekuning-kuningan, lebih kuning dibandingkan
ASI Mature.
- Merupakan suatu
laxanif yang ideal untuk membersihkan meconeum usus bayi yang baru lahir dan
mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima makanan selanjutnya.
- Lebih banyak
mengandung protein dibandingkan ASI Mature, tetapi
berlainan dengan ASI Mature dimana protein yang utama adalah casein pada colostrum protein yang utama adalah globulin, sehingga dapat memberikan daya perlindungan tubuh terhadap infeksi.
berlainan dengan ASI Mature dimana protein yang utama adalah casein pada colostrum protein yang utama adalah globulin, sehingga dapat memberikan daya perlindungan tubuh terhadap infeksi.
- Lebih banyak
mengandung antibodi dibandingkan ASI Mature yang dapat memberikan perlindungan
bagi bayi sampai 6 bulan pertama.
- Lebih rendah kadar
karbohidrat dan lemaknya dibandingkan dengan ASI Mature.
- Total energi lebih
rendah dibandingkan ASI Mature yaitu 58 kalori/100 ml colostrum.
- Vitamin larut
lemak lebih tinggi. Sedangkan vitamin larut dalam air dapat lebih tinggi atau
lebih rendah.
- Bila dipanaskan
menggumpal, ASI Mature tidak.
- PH lebih alkalis
dibandingkan ASI Mature.
- Lemaknya lebih banyak
mengandung Cholestrol dan lecitin di bandingkan ASI Mature.
- Terdapat trypsin
inhibitor, sehingga hidrolisa protein di dalam usus bayi menjadi krang
sempurna, yangakan menambah kadar antobodi pada bayi.
- Volumenya berkisar
150-300 ml/24 jam.
2. Air Susu Masa
Peralihan (Masa Transisi)
a. Merupakan ASI
peralihan dari colostrum menjadi ASI Mature.
b. Disekresi dari hari
ke 4 – hari ke 10 dari masa laktasi, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa ASI
Mature baru akan terjadi pada minggu ke 3 – ke 5.
c. Kadar protein
semakin rendah, sedangkan kadar lemak dan karbohidrat semakin tinggi.
d. Volume semakin
meningkat.
3. Air Susu Mature
- ASI yang disekresi
pada hari ke 10 dan seterusnya, yang dikatakan komposisinya relatif konstan,
tetapi ada juga yang mengatakan bahwa minggu ke 3 sampai ke 5 ASI komposisinya
baru konstan.
- Merupakan makanan
yang dianggap aman bagi bayi, bahkan ada yang mengatakan pada ibu yangs ehat
ASI merupakan makanan satu-satunya yang diberikan selama 6 bulan pertama bagi
bayi.
- ASI merupakan
makanan yang mudah di dapat, selalu tersedia, siap diberikan pada bayi tanpa
persiapan yang khusus dengan temperatur yang sesuai untuk bayi.
- Merupakan cairan
putih kekuning-kuningan, karena mengandung casienat, riboflaum dan karotin.
- Tidak menggumpal
bila dipanaskan.
- Volume: 300 – 850
ml/24 jam
- Terdapat anti
microbaterial factor, yaitu:
• Antibodi
terhadap bakteri dan virus.
• Cell (phagocyle,
granulocyle, macrophag, lymhocycle type T)
• Enzim (lysozime,
lactoperoxidese)
• Protein (lactoferrin,
B12 Ginding Protein)
• Faktor resisten
terhadap staphylococcus.
• Complecement (
C3 dan C4)
Volume Produksi ASI
Pada minggu bulan
terakhir kehamilan, kelenjar-kelenjar pembuat ASI mulai menghasilkan ASI.
Apabila tidak ada kelainan, pada hari pertama sejak bayi lahir akan dapat
menghasilkan 50-100 ml sehari dari jumlah ini akan terus bertambah sehingga
mencapai sekitar 400-450 ml pada waktu bayi mencapai usia minggu kedua.(9)
Jumlah tersebut dapat dicapai dengan menysusui bayinya selama 4 – 6 bulan
pertama. Karena itu selama kurun waktu tersebut ASI mampu memenuhi lkebutuhan
gizinya. Setelah 6 bulan volume pengeluaran air susu menjadi menurun dan sejak
saat itu kebutuhan gizi tidak lagi dapat dipenuhi oleh ASI saja dan harus
mendapat makanan tambahan.
Dalam keadaan produksi
ASI telah normal, volume susu terbanyak yang dapat diperoleh adalah 5 menit
pertama. Penyedotan/penghisapan oleh bayi biasanya berlangsung selama 15-25
menit.
Selama beberapa bulan
berikutnya bayi yang sehat akan mengkonsumsi sekitar 700-800 ml ASI setiap
hari.Akan tetapi penelitian yang dilakukan pada beberpa kelompok ibu dan bayi
menunjukkan terdapatnya variasi dimana seseorang bayi dapat mengkonsumsi sampai
1 liter selama 24 jam, meskipun kedua anak tersebut tumbuh dengan kecepatan
yang sama.
Konsumsi ASI selama
satu kali menysui atau jumlahnya selama sehari penuh sangat bervariasi. Ukuran
payudara tidak ada hubungannya dengan volume air susu yang diproduksi, meskipun
umumnya payudara yang berukuran sangat kecil, terutama yang ukurannya tidak
berubah selama masa kehamilan hanya memproduksi sejumlah kecil ASI.
Pada ibu-ibu yang mengalami kekurangan gizi, jumlah air susunya dalam sehari sekitar 500-700 ml selama 6 bulan pertama, 400-600 ml dalam 6 bulan kedua, dan 300-500 ml dalam tahun kedua kehidupan bayi.
Pada ibu-ibu yang mengalami kekurangan gizi, jumlah air susunya dalam sehari sekitar 500-700 ml selama 6 bulan pertama, 400-600 ml dalam 6 bulan kedua, dan 300-500 ml dalam tahun kedua kehidupan bayi.
Penyebabnya mungkin
dapat ditelusuri pada masa kehamilan dimana jumlah pangan yang dikonsumsi ibu
tidak memungkinkan untuk menyimpan cadangan lemak dalam tubuhnya, yang kelak
akan digunakan sebagai salah satu komponen ASI dan sebagai sumber energi selama
menyusui. Akan tetapi kadang-kadang terjadi bahwa peningkatan jumlah produksi
konsumsi pangan ibu tidak selalu dapat meningkatkan produksi air susunya.
Produksi ASI dari ibu yang kekurangan gizi seringkali menurun jumlahnya dan
akhirnya berhenti, dengan akibat yang fatal bagi bayi yang masih sangat muda.
Di daerah-daerah dimana ibu-ibu sangat kekurangan gizi seringkali ditemukan
“merasmus” pada bayi-bayi berumur sampai enam bulan yang hanya diberi ASI.
Komposisi ASI
Kandungan colostrum
berbeda dengan air susu yang mature, karena colostrum mengandung berbeda dengan
air susu yang mature, karena colostrum dan hanya sekitar 1% dalam air susu
mature, lebih banyak mengandung imunoglobin A (Iga), laktoterin dan sel-sel
darah putih, terhadap, yang kesemuanya sangat penting untuk pertahanan tubuh
bayi, terhadap serangan penyakit (Infeksi) lebih sedikit mengandung lemak dan
laktosa, lebih banyak, mengandung vitamin dan lebih banyak mengandung
mineral-mineral natrium (Na) dan seng (Zn).
Dimana susu sapi
mengandung sekitar tiga kali lebih banyak protein daripada ASI. Sebagian besar
dari protein tersebut adalah kasein, dan sisanya berupa protein whey yang
larut. Kandungan kasein yang tinggi akan membentuk gumpalan yang relatif keras
dalam lambung bayi. Bila bayi diberi susu sapi, sedangkan ASI walaupun
mengandung lebih sedikit total protein, namun bagian protein “whey”nya lebih
banyak, sehingga akan membetuk gumpalan yang lunak dan lebih mudah dicerna
serta diserapoleh usus bayi.
Sekitar setengah dari
energi yang terkandung dalam ASI berasal dari lemak, yang lebih mudah dicerna
dan diserap oleh bayi dibandingkan dengan lemak susu sapi, sebab ASI mengandung
lebih banyak enzim pemecah lemak (lipase). Kandungan total lemak sangat
bervariasi dari satu ibu ke ibu lainnya, dari satu fase lakatasi air susu yang
pertama kali keluar hanya mengandung sekitar 1 – 2% lemak dan terlihat encer.
Air susu yang encer ini akan membantu memuaskan rasa haus bayi waktu mulai
menyusui. Air susu berikutnya disebut “Hand milk”, mengandung sedikitnya tiga
sampai empat kali lebih banyak lemak. Ini akan memberikan sebagian besar energi
yang dibutuhkan oleh bayi, sehingga penting diperhatikan agar bayi, banyak memperoleh
air susu ini.
Laktosa (gula susu)
merupakan satu-satunya karbohidrat yang terdapat dalam air susu murni. Jumlahnya
dalam ASI tak terlalu bervariasi dan terdapat lebih banyak dibandingkan dengan
susu sapi.
Disamping fungsinya sebagai sumber energi, juga didalam usus sebagian laktosa akan diubah menjadi asam laktat. Didalam usus asam laktat tersebut membantu mencegah pertumbuhan bakteri yang tidak diinginkan dan juga membantu penyerapan kalsium serta mineral-mineral lain.
Disamping fungsinya sebagai sumber energi, juga didalam usus sebagian laktosa akan diubah menjadi asam laktat. Didalam usus asam laktat tersebut membantu mencegah pertumbuhan bakteri yang tidak diinginkan dan juga membantu penyerapan kalsium serta mineral-mineral lain.
ASI mengandung lebih
sedikit kalsium daripada susu sapi tetapi lebih mudah diserap, jumlah ini akan
mencukupi kebutuhan untuk bahan-bahan pertama kehidupannya ASI juga mengandung
lebih sedikit natrium, kalium, fosfor dan chlor dibandingkan dengan susu sapi,
tetapi dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi.
Apabila makanan yang
dikonsumsi ibu memadai, semua vitamin yang diperlukan bayi selama empat
sampai enam bulan pertama kehidupannya dapat diperoleh dari ASI. Hanya sedikit
terdapat vitamin D dalam lemak susu, tetapi penyakit polio jarang terjadi pada
aanak yang diberi ASI, bila kulitnya sering terkena sinar matahari. Vitamin D
yang terlarut dalam air telah ditemukan terdapat dalam susu, meskipun fungsi
vitamin ini merupakan tambahan terhadap vitamin D yang terlarut lemak.
Manajemen Laktasi
Manajemen Laktasi
Manajemen laktasi
adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. Dalam
pelaksanaannya terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan
dan pada masa menyusui selanjutnya.
Adapun upaya-upaya yang dilakukan adalah
sebagai berikut:
a. Pada masa
Kehamilan (antenatal)
- Memberikan
penerangan dan penyuluhan tentang manfaat dan keunggulan ASI, manfaat menyusui
baik bagi ibu maupun bayinya, disamping bahaya pemberian susu botol.
- Pemeriksaan
kesehatan, kehamilan dan payudara/keadaan putting susu, apakah ada kelainan
atau tidak. Disamping itu perlu dipantau kenaikan berat badan ibu hamil.
- Perawatan payudara
mulai kehamilan umur enam bulan agar ibu mampu memproduksi dan memberikan ASI
yang cukup.
- Memperhatikan
gizi/makanan ditambah mulai dari kehamilan trisemester kedua sebanyak 1 1/3
kali dari makanan pada saat belum hamil.
- Menciptakan
suasana keluarga yang menyenangkan. Dalam hal ini perlu diperhatikan keluarga
terutama suami kepada istri yang sedang hamil untuk memberikan dukungan dan
membesarkan hatinya.
b. Pada masa segera
setelah persalinan (prenatal)
- Ibu dibantu
menyusui 30 menit setelah kelahiran dan ditunjukkan cara menyusui yang baik dan
benar, yakni: tentang posisi dan cara melakatkan bayi pada payudara ibu.
- Membantu
terjadinya kontak langsung antara bayi-ibu selama 24 jam sehari agar menyusui dapat
dilakukan tanpa jadwal.
- Ibu nifas
diberikan kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000S1) dalam waktu dua minggu
setelah melahirkan.
c. Pada masa menyusui
selanjutnya (post-natal)
- Menyusui
dilanjutkan secara ekslusif selama 6 bulan pertama usia bayi, yaitu hanya
memberikan ASI saja tanpa makanan/minuman lainnya.
- Perhatikan
gizi/makanan ibu menyusui, perlu makanan 1 ½ kali lebih banyak dari biasa dan
minum minimal 8 gelas sehari.
- Ibu menyusui
harus cukup istirahat dan menjaga ketenangan pikiran dan menghindarkan
kelelahan yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat.
- Pengertian dan
dukungan keluarga terutama suami penting untuk menunjang keberhasilan menyusui.
- Rujuk ke
Posyandu atau Puskesmas atau petugas kesehatan apabila ada permasalahan
menysusui seperti payudara banyak disertai demam.
- Menghubungi
kelompk pendukung ASI terdekat untuk meminta pengalaman dari ibu-ibu lain yang
sukses menyusui bagi mereka.
- Memperhatikan
gizi/makanan anak, terutama mulai bayi 4 bulan, berikan MP ASDI yang cukup baik
kuantitas maupun kualitas.
Makanan Bayi Berusia
0-4 bulan
Ibu-ibu seharusnya bersyukur bila payudaranya, ternyata dapat memproduksi air susu yang berlimpah, karena anugrah tuhan ini tidak dimiliki oleh semua ibu. Meskipun demikian, diperkirakan 80% dari jumlah ibu yang melahirkan ternyata mampu menghasilkan air susu dalm jumlah yang cukup untuk keperluan bayinya, secara penuh tanpa makanan tamabahan selama enam bulan pertama. Bahkan ibu yang gizinya kurang baikpun sering dapat menghasilkan ASI cukup tanpa makanan tambahan selama 3 bulan pertama (Warno FG, 1990 hal.175).
Ibu-ibu seharusnya bersyukur bila payudaranya, ternyata dapat memproduksi air susu yang berlimpah, karena anugrah tuhan ini tidak dimiliki oleh semua ibu. Meskipun demikian, diperkirakan 80% dari jumlah ibu yang melahirkan ternyata mampu menghasilkan air susu dalm jumlah yang cukup untuk keperluan bayinya, secara penuh tanpa makanan tamabahan selama enam bulan pertama. Bahkan ibu yang gizinya kurang baikpun sering dapat menghasilkan ASI cukup tanpa makanan tambahan selama 3 bulan pertama (Warno FG, 1990 hal.175).
Dalam usia 0-4 bulan
bayi sepenuhnya mendapat makanan berupa ASI dan tidak perlu di beri makanan
lain, kecuali jka ada tanda-tanda produksi ASI tidak mencukupi.
Keadaan gizi anak pada
waktu lahir sangat dipengaruhi oleh keadaan gizi semasa hamil. Ibu yang semasa
hamilnya menderita gangguan gizi selain akan melahirkan anak yang gizinya tidak
baik, juga kemungkinan dapat melahirkan anak dengan berbagai kelainan dalam pertumbuhannya,
atau mungkin anak akan lahir mati. Sejak terjadinya pembuahan terhadap sel
telur dalam rahim ibu.
Hanya makanan yang
memenuhi syarat gizi bagi anak dan bagi ibunya yang dapat membantu syarat gizi
bagi wanita hamil dan pengaturan makanan anak yang sesuai merupakan masalah
pokok yang perlu dihayati oleh para ibu. Menyusui adalah cara makan aanak-anak
yang tradisional dan ideal, yang biasanya sanggup memenuhi kebutuhan gizi
seseorang bayi untuk masa hidup empat sampai enam bulan pertama. Bahkan setelah
diperkenankan bahan makanan tambahan yang utama, ASI masih tetap merupakan
sumber utama yang bisa mencukupi gizi.
Dalam tahap usia sejak
lahir sampai 4 bulan, ASI merupakan makanan yang paling utama. Pemberian ASI
masa ini memberikan beberpa keuntungan.
Betapapun tingginya dan
baiknya mutu ASI sebagai makanan bayi, manfaatnyabagi pertumbuhan dan
perkembangan bayi sangat ditentukan oleh jumlah ASI yang dapat diberikan oleh
ibu. Kebaikan dan mutu ASI yang dapat dihasilkan oleh ibu tidak sesuai dengan
kebutuhan bayi, dan akibatnya bayi akan menderita gangguan gizi.
ASI sebagai makanan
tunggal harus diberikan sampai bayi berumur 4bulan. Hal ini sesuai dengan
kebijaksanaan PP-ASI yaitu ASI diberikan selama 2 tahun dan baru pada usia 4
bulan bayi mulai di beri makanan pendamping ASI, paling lambat usia 6 bulan
karena ASI dapat memenuhi kebutuhan bayi pada 4 bulan pertama.
Adapun makanan bayi umur 0-4 bulan
adalah sebagai berikut:
- Susui bayi
segera 30 menit setelah lahir.
Kontak fisik dan hisapan bayi akan merangsang produksi ASI. Pada periode ini ASI saja sudah dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi, karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Menyusui sangat baik untuk bayi dan ibu. Dengan menysusui akan terjalin hubungan kasih sayang antara ibu dan anak.
Kontak fisik dan hisapan bayi akan merangsang produksi ASI. Pada periode ini ASI saja sudah dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi, karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Menyusui sangat baik untuk bayi dan ibu. Dengan menysusui akan terjalin hubungan kasih sayang antara ibu dan anak.
- Berikan
Kolostrum
- Berikan ASI dari
kedua payudara, kiri dan kanan secara bergantian, tiap
kali sampai payudara terasa kosong. Payudara yang dihisap sampai
kosong merangsang produksi ASI yang cukup.
kali sampai payudara terasa kosong. Payudara yang dihisap sampai
kosong merangsang produksi ASI yang cukup.
- Berikan ASI
setiap kali meminta/menangis tanpa jadwal.
- Berikan ASI 0-10
kali setiap hari, termasuk pada malam hari.
Faktor-faktor yang memperoleh Produksi ASI
Adapun hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI antara lain adalah:
Faktor-faktor yang memperoleh Produksi ASI
Adapun hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI antara lain adalah:
a. Makanan Ibu
Makanan yang dimakan
seorang ibu yang sedang dalam masa menyusui tidak secara langsung mempengaruhi
mutu ataupun jumlah air susu yang dihasilkan. Dalam tubuh terdapat cadangan
berbagai zat gizi yang dapat digunakan bila sewaktu-waktu diperlukan. Akan
tetapi jika makanan ibu terus menerus tidak mengandung cukup zat gizi yang
diperlukan tentu pada akhirnya kelenjar-kelenjar pembuat air susu dalam buah
dada ibu tidak akan dapat bekerja dengan sempurna, dan akhirnya akan
berpengaruh terhadap produksi ASI.
Unsur gizi dalam 1
liter ASI setara dengan unsur gizi yang terdapat dalam 2 piring nasi ditambah 1
butir telur. Jadi diperlukan kalori yang setara dengan jumlah kalori yang
diberikan 1 piring nasi untuk membuat 1 liter ASI. Agar Ibu menghasilkan 1
liter ASI diperlukan makanan tamabahan disamping untuk keperluan dirinya sendiri,
yaitu setara dengan 3 piring nasi dan 1 butir telur.
Apabila ibu yang sedang menyusui bayinya tidak mendapat tambahan makanan, maka akan terjadi kemunduran dalam pembuatan ASI. Terlebih jikapada masa kehamilan ibu juga mengalami kekurangan gizi. Karena itu tambahan makanan bagi seorang ibu yang sedang menyusui anaknya mutlak diperlukan. Dan walaupun tidak jelas pengaruh jumlah air minum dalam jumlah yang cukup. Dianjurkan disamping bahan makanan sumber protein seperti ikan, telur dan kacang-kacangan, bahan makanan sumber vitamin juga diperlukan untuk menjamin kadar berbagai vitamin dalam ASI.
Apabila ibu yang sedang menyusui bayinya tidak mendapat tambahan makanan, maka akan terjadi kemunduran dalam pembuatan ASI. Terlebih jikapada masa kehamilan ibu juga mengalami kekurangan gizi. Karena itu tambahan makanan bagi seorang ibu yang sedang menyusui anaknya mutlak diperlukan. Dan walaupun tidak jelas pengaruh jumlah air minum dalam jumlah yang cukup. Dianjurkan disamping bahan makanan sumber protein seperti ikan, telur dan kacang-kacangan, bahan makanan sumber vitamin juga diperlukan untuk menjamin kadar berbagai vitamin dalam ASI.
b. Ketentraman Jiwa
dan Pikiran
Pembuahan air susu ibu
sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. Ibu yang selalu dalam keadaan gelisah,
kurang percaya diri, rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional,
mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya.
Pada ibu ada 2 macam, reflek yang menentukan keberhasilan dalam
menyusui bayinya, reflek tersebut adalah:
Pada ibu ada 2 macam, reflek yang menentukan keberhasilan dalam
menyusui bayinya, reflek tersebut adalah:
1. Reflek
Prolaktin
Reflek ini secara
hormonal untuk memproduksi ASI. Waktu bayi menghisap payudara ibu, terjadi
rangsangan neorohormonal pada putting susu dan aerola ibu. Rangsangan ini
diteruskan ke hypophyse melalui nervus vagus, terus kelobus anterior. Dari
lobus ini akan mengeluarkan hormon prolaktin, masuk ke peredaran darah dan
sampai pada kelenjar –kelenjar pembuat ASI. Kelenjar ini akan terangsang untuk
menghasilkan ASI.
2. Let-down
Refleks (Refleks Milk Ejection)
Refleks ini membuat
memancarkan ASI keluar. Bila bayi didekatkan pada payudara ibu, maka bayi akan
memutar kepalanya kearah payudara ibu. Refleks memutarnya kepala bayi ke
payudara ibu disebut :”rooting reflex (reflex menoleh). Bayi secara otomatis
menghisap putting susu ibu dengan bantuan lidahnya. Let-down reflex mudah
sekali terganggu, misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi, tekanan
jiwa dan gangguan pikiran. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI
tidak keluar. Bayi tidak cukup mendapat ASI dan akan menangis.
Tangisan bayi ini
justru membuat ibu lebih gelisah dan semakin mengganggu let down reflex.
c. Pengaruh
persalinan dan klinik bersalin
Banyak ahli
mengemukakan adanya pengaruh yang kurang baik terhadap kebiasaan memberikan ASI
pada ibu-ibu yang melahirkan di rumah sakit atau klinik bersalin lebih menitik
beratkan upaya agar persalinan dapat berlangsung dengan baik, ibu dan anak
berada dalam keadaan selamat dan sehat. Masalah pemebrian ASI kurang mendapat
perhatian. Sering makanan pertama yang diberikan justru susu buatan atau susu
sapi. Hal ini memberikan kesan yang tidak mendidik pada ibu, dan ibu selalu
beranggapan bahwa susu sapi lebih dari ASI. Pengaruh itu akan semakin buruk
apabila disekeliling kamar bersalin dipasang gambar-gambar atau poster yang
memuji penggunaan susu buatan.
d. Penggunaan alat
kontrasepsi yang mengandung estrogen dan
progesteron.
progesteron.
Bagi ibu yang dalam
masa menyusui tidak dianjurkan menggunakan kontrasepsi pil yang mengandung
hormon estrogen, karena hal ini dapat mengurangi jumlah produksi ASI bahkan
dapat menghentikan produksi ASI secara keseluruhan oleh karena itu alat
kontrasepsi yang paling tepat digunakan adalah alat kontrasepsi dalam rahim
(AKDR) yaitu IUD atau spiral. Karena AKDR dapat merangsang uterus ibu sehingga
secara tidak langsung dapat meningkatkan kadar hormon oxitoksin, yaitu hormon
yang dapat merangsang produksi ASI.
e. Perawatan
Payudara
Perawatan fisik
payudara menjelang masa laktasi perlu dilakukan, yaitu dengan mengurut payudara
selama 6 minggu terakhir masa kehamilan. Pengurutan tersebut diharapkan apablia
terdapat penyumbatan pada duktus laktiferus dapat dihindarkan sehingga pada
waktunya ASI akan keluar dengan lancar.
BAB
III
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
3.1 Defenisi Asi
ASI merupakan malanan alamiah yang
pertama dan utama bagi bayi baru lahir. ASI dapat memenuhi kebutuhan bayi akan
energi dan gizi selama 4-6 bulan pertama kehidupannya, sehingga dapat mencapai
tumbuh kembang yang optimal. Selain sebagai sumber energi dan zat gizi,
pemberian ASI juga merupakan media untuk menjalin hubungan psikologis antara
ibu dan bayinya.
Hubungan ini akan menghantarkan
kasih sayang dan perlindungan ibu kepada bayinya serta memikat kemesraan bayi
terhadap ibunya, sehingga terjalin hubungan yang harmonis dan erat. Namun
sering ibu-ibu tidak berhasil menyusui bayinya atau menghentikan menyusui lebih
dini. Untuk itu dalam Bab pembahasan ini akan dibahas “Mengapa ASI Ekslusif
tidak diberikan, dan kemungkinan faktor-faktor yang mempengaruhi tidak
diberikannya ASI Ekslusif.
Penelitian dan pengamatan yang
dilakukan diberbagai daerah menunjukkan dengan jelas adanya kecenderungan
meningkatkannya jumlah ibu yang tidak menyusui bayi ini dimulai di kota
terutama pada kelomopk ibu dan keluarga yang berpenghasilan cukup, yang
kemudian menjalar ke daerah pinggiran kota dan menyebar sampai ke desa-desa.
Banyak hal yang menyebabkan ASI Ekslusif tidak diberikan khususnya bagi ibu-ibu
di Indonesia, hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh. Antara lain:
a.
Adanya perubahan struktur masyarakat dan
keluarga.
Hubungan kerabat yang luas di
daerah pedesaan menjadi renggang setelah keluarga pindah ke kota. Pengaruh
orang tua seperti nenek, kakek, mertua dan orang terpandang dilingkungan
keluarga secara berangsur menjadi berkurang, karena mereka itu umumnya tetap
tinggal di desa sehingga pengalaman mereka dalam merawat makanan bayi tidak
dapat diwariskan.
b.
Kemudahan-kemudahan yang didapat sebagai
hasil kemajuan
Teknologi pembuatan makanan bayi seperti pembuatan tepung makanan bayi, susu buatan bayi, mendorong ibu untuk mengganti ASI dengan makanan olahan lain.
Teknologi pembuatan makanan bayi seperti pembuatan tepung makanan bayi, susu buatan bayi, mendorong ibu untuk mengganti ASI dengan makanan olahan lain.
c.
Iklan yang menyesatkan dari produksi
makanan bayi menyebabkan ibu beranggapan bahwa makanan-makanan itu lebih baik
dari ASI
d.
Para ibu sering keluar rumah baik karena
bekerja maupun karena tugas-tugas sosial, maka susu sapi adalah satu-satunya
jalan keluar dalam pemberian makanan bagi bayi yang ditinggalkan dirumah
e.
Adanya anggapan bahwa memberikan susu
botol kepada anak sebagai salah satu simbol bagi kehidupan tingkat sosial yan
lebih tinggi, terdidik dan mengikuti perkembangan zaman.
f.
Ibu takut bentuk payudara rusak apabila
menyusui dan kecantikannya akan hilang.
g.
Pengaruh melahirkan dirumah sakit atau
klinik bersalin. Belum semua petugas paramedis diberi pesan dan diberi cukup
informasi agar menganjurkan setiap ibu untuk menyusui bayi mereka, serta
praktek yang keliru dengan memberikan susu botol kepada bayi yang baru lahir.
Sering juga ibu tidak menyusui bayinya karena terpaksa, baik karena faktor intern dari ibu seperti terjadinya bendungan ASI yang mengakibatkan ibu merasa sakit sewaktu bayinya menyusu, luka-luka pada putting susu yang sering menyebabkan rasa nyeri, kelainan pada putting susu dan adanya penyakit tertentu seperti tuberkolose, malaria yang merupakan alasan untuk tidak menganjurkan ibu menyusui bayinya, demikian juga ibu yang gizinya tidak baik akan menghasilkan ASI dalam jumlah yang relatif lebih sedikit dibandingkan ibu yang sehat dan gizinya baik.
Sering juga ibu tidak menyusui bayinya karena terpaksa, baik karena faktor intern dari ibu seperti terjadinya bendungan ASI yang mengakibatkan ibu merasa sakit sewaktu bayinya menyusu, luka-luka pada putting susu yang sering menyebabkan rasa nyeri, kelainan pada putting susu dan adanya penyakit tertentu seperti tuberkolose, malaria yang merupakan alasan untuk tidak menganjurkan ibu menyusui bayinya, demikian juga ibu yang gizinya tidak baik akan menghasilkan ASI dalam jumlah yang relatif lebih sedikit dibandingkan ibu yang sehat dan gizinya baik.
Disamping itu juga karena faktor
dari pihak bayi seperti bayi lahir sebelum waktunya (prematur) atau bayi lahir
dengan berat badan yang sangat rendah yang mungkin masih telalu lemah abaila
mengisap ASI dari payudara ibunya, serta bayi yang dalam keadaan sakit.
Memburuknya gizi anak dapat juga
terjadi akibat ketidaktahuan ibu mengenai cara – cara pemberian ASI kepada
anaknya. Berbagai aspek kehidupan kota telah membawa pengaruh terhadap banyak
para ibu untuk tidak menyusui bayinya, padahal makanan penganti yang bergizi tinggi
jauh dari jangkauan mereka. Kurangnya pengertian dan pengertahuuan ibu tentang
manfaat ASI dan menyusui menyebabkan ibu – ibu mudah terpengaruh dan beralih
kepada susu botol (susu formula).Kesehatan/status gizi bayi/anak serta
kelangsungan hidupnya akan lebih baik pada ibu- ibu yang berpendidikan rendah.
Hal ini karena seorang ibu yang berpendidikan tinggi akan memiliki pengetahuan
yang luas serta kemampuan untuk menerima informasi lebih tinggi.
Pada penelitian di Pakisttan dimana
tingkat kematian anak pada ibu –ibu yang lama pendidikannya 5 tahun adalah 50 %
lebih rendah daripada ibu – ibu yang buta huruf. Demikian juga di
Indonesiabahwa pemberian makanan padat yang terlalu dini.Sebahagian besar
dilakukan oleh ibu- ibu yang berpendidikan rendah , agaknya faktor ketidaktauanlah
yang menyebabkannya.
Faktor lain yang berpengaruh
terhadap pemberian ASI adalah sikap ibu terhadap lingkungan sosialnya dan
kebudayaan dimana dia dididik. Apabila pemikiran tentang menyusui dianggap
tidak sopan dan memerlukan , maka “let down reflex” (reflex keluar) akan
terhambat. Sama halnya suatu kebudayaan tidak mencela penyusunan, maka
pengisapan akan tidak terbatas dan “du demand” (permintaan) akan menolong
pengeluaran ASI.
Selain itu kemampuan ibu yang seusianya lebih tua juga amat rendah produksi ASInya, sehingga bayi cendrung mengalami malnutrisi. Alasan lain ibu – ibu tidak menyusui bayinya adalah karena ibu tersebut secara tidak sadar berpendapat bahwa menyusui hanya ibu merupakan beban bagi kebebasan pribadinya atau hanya memperburuk potongan dan ukuran tubuhnya.
Selain itu kemampuan ibu yang seusianya lebih tua juga amat rendah produksi ASInya, sehingga bayi cendrung mengalami malnutrisi. Alasan lain ibu – ibu tidak menyusui bayinya adalah karena ibu tersebut secara tidak sadar berpendapat bahwa menyusui hanya ibu merupakan beban bagi kebebasan pribadinya atau hanya memperburuk potongan dan ukuran tubuhnya.
Kendala lain yang dihadapi dalam
upaya peningkatan penggunaan ASI adalah sikap sementara petugas kesehatan dari
berbagai tingkat yang tidak bergairah mengikuti perkembangan ilmu kedokteran
dan kesehatan. Konsep baru tentang pemberian ASI dan mengenai hal – hal yang
berhubungan dengan ibu hamil, ibu bersaliin, ibu menyusui dan bayi baaru lahir.
Disamping itu juga sikap sementara penaggung jawab ruang bersaliiin dan
perawatan dirumah sakit,rumah bersalinn yang berlangsung memberikan susu botol
pada bayi baru lahir ataupun tidak mau mengusahakan agar iibu mampu memberikan
ASI kepada bayinya, serta belum diterapkannya pelayanan rawat disebagian besar
rumah sakit /klinik bersalin.
Semua faktor– faktor terebut diatas
yang dianggap sebagai penyebab semakin melorotnya kegiatan meminumkan air susu
ibu ke kalangan para ibu – ibu saat ini.
Oleh sebab itu upaya yang dapat dilakukan antara
lain :
3.2 Motivasi untuk menyusui.
Di daerah pedesaan menyusui anak
terlihat sebagai suatu proses yang normal, dan tidak dilakukan
sembunyi-sembunyi. Ibu-ibu tidak malu menyusui bayinya. Kebiasaan itu adpat
diciptakan suatu kondisi dan gairah bagi para gadis yang melihatnya, sehingga
ada kemauan naluriah melakukan hal yang sama. Bila tumbuh menjadi besar dan
punya anak meeka ingin melakukan hal yang serupa. Sebaliknya, kebiasaan ibu-ibu
di kota yang malu-nalu serta sembunyi-sembunyi menyusui bayinya, tentu akan
banyak mempengaruhi tabiat gadis-gadis disekitarnya untuk berbuat sama, dan
menyusui anak merupakan sesuatu hal yang harus dihindarkan.
Ibu-ibu harus dibangkitkan kemauan dan kesediannya untuk menyusui anaknya, terutama sebelum melahirkan. Dan bila menyusui, hendaknya ditingkatkan pada masyarakat, pengertian tersebut harus ditanamkan pada anak-anak gadis sejak masih usia muda, bahwa menyusui anak merupakan bagian dari tugas biologis seorang ibu.
Ibu-ibu harus dibangkitkan kemauan dan kesediannya untuk menyusui anaknya, terutama sebelum melahirkan. Dan bila menyusui, hendaknya ditingkatkan pada masyarakat, pengertian tersebut harus ditanamkan pada anak-anak gadis sejak masih usia muda, bahwa menyusui anak merupakan bagian dari tugas biologis seorang ibu.
Didaerah perkotaan, sasaran yang
harus diberi pendidikan adalah para gadis remaja. Didaerah pedesaan, pendidikan
harus diarahkan untuk tujuan mencegah marasmus. Perkembangan teknologi yang
telah dapat menciptakan “humanized milk” menyebabkan nilai ASI dan kebiasaan
menyusui yang pada hakekatnya memberikan fasilitas kemudahan pengadaan susu,
murah serta praktis semakin kurang diminati dan dihindari. Kemajuan dibidang
kesehatan lingkungan dan industri makanan sapihan membuat segalanya menjadi
sangat praktis sehingga para ibu lebih cenderung menggunakan susu botol. Untuk
mengatasi masalah tersebut, ibu-ibu yang mampu harus dihimbau dan diberi
motivasi agar kembali pada praktek menyusui anak sendiri. Karena hal itu
mendatangkan keuntungan bagi hubungan ibu dan anak dan terutama karena hal itu
memenuhi ciri dan kodrat manusia.
3.3 Keterampilan
Menyusui
Banyak permasalahan
dalam menyusui seperti (nyeri pada puting susu, susu yang jumlahnya sedikit,
atau ibu tidak nyaman dalam menyusui) bias dipecahkan dengan meningkatkan
teknik dasar dalam menyusui, khususnya dalam memposisikan ibu dan bayi dengan
benar.
Posisi Ibu :
•
Duduklah dengan nyaman dan carilah
posisi yang paling nyaman ketika duduk diatas kursi, atau kursi goyang, kursi
berlengan atau bahkan duduk diatas kasur dengan bersandar pada dinding atau
sandaran kasur.
•
Letakkan bantal dibelakang punggung, dan
dibawah lengan yang akan memberikan tumpuan ketika ibu menggendong bayi.
•
Gunakan tumpuan kaki atau pijakan bila
ibu duduk, khususnya bila menggunakan kursi yang cukup tinggi.
•
Bisa juga ibu bersandar pada sandaran
kasur dengan posisi menghadap bayi dengan menggunakan bantal sebagai penyangga
kepala, leher, punggung dan kaki bagian atas.
Posisi bayi :
•
Disarankan untuk memulai persiapan
pemberian ASI dengan mengenakan pakaian yang sederhana pada bayi atau bahkan
tidak mengenakan pakaian, untuk meningkatkan kontak dengan ibu.
•
Baringkan bayi dalam dekapan ibu, dengan
posisi menghadap payudara. Posisi leher pada lipatan lengan, badan terbaring
disepanjang lengan dan pantat dipegang oleh tangan.
•
Setelah itu putarlah tubuh bayi
sedemikian rupa sehingga posisi bayi berhadapan dengan badan ibu.
•
Posisi tubuh bayi harus dalam kedaan
tegak lurus menghadap tubuh ibu, jangan memutar leher bayi untuk mencapai
putting susu ibu.
•
Jika posisi bayi kurang tinggi, gunakan
bantal untuk menyangga lengan.
•
Posisikan lengan bayi dengan baik,
lengan bawah diposisikan di bawah payudara dan lengan yang atas bila mengganggu
bisa ditahan dengan menggunakan ibu jari lengan yang menggendong.
Posisi payudara :
•
Hal yang pertama perlu dilakukan dalam
persiapan payudara menjelang menyusui. Secara manual pijatlah payudara untuk mendapatkan
beberapa tetes ASI pada puting ibu, hal ini akan melembabkan payudara ibu.
•
Tahanlah payudara, beban payudara
ditahan dengan telapak tangan dan jari-jemari di bawahnya dan ibu jari di
atasnya.
•
Jauhkan jari dari daerah areola,
sehingga menjauhi daerah tempat bayi menghisap susu, hal ini bertujuan untuk
menghindari kontaminasi.
Memulai menyusui :
Memulai menyusui :
•
Dekatkan mulut bayi pada puting yang
sudah lembab tadi, lalu pijatlah bibir bayi dengan lembut untuk merangsang
refleks menghisap pada bayi.
•
Ketika mulut bayi terbuka, segeralah
melekatkan mulut bayi di tengah payudara dan dekatlah bayi dengan erat ke tubuh
ibu.
•
Pastikan bayi menghisap hingga areola
payudara bukan puting susu ibu, dengan ini nyeri pada payudara selama menyusui
bisa dihindari.
•
Buatlah penyesuaian dengan irama
pernafasan bayi.
•
Ketika bayi sudah menghisap ASI dengan
baik maka pastikan kita mengatur posisi payudara dengan baik, tahan berat
payudara dengan tangan sehingga berat payudara tidak seluruhnya membebani mulut
dan bibir bayi.
•
Hal terakhir yang cukup penting adalah,
ketika kita akan menghentikan pemberian ASI, jangan menarik mulut bayi dari
payudara ketika bayi masih menghisap. Maka hentikan dahulu hisapan bayi lalu
jauhkan bayi dari payudara dengan perlahan-lahan, hal ini bertujuan agar penghentian
menyusui ini tidak melukai payudara, yang bisa berakibat nyeri hingga infeksi
payudara.
3.4 Tanda Cukup Asi
Banyak ibu yang kurang
memperhatikan apakah bayinya sudah cukup mendapatkan ASI, atau bahkan banyak
juga ibu yang bingung dengan berapa banyak atau berapa sering pemberian ASI
yang baik itu.
Oleh karena itu, berbagai tanda dibawah ini dapat dijadikan pedoman untuk mengevaluasi kecukupan pemberian ASI, yaitu :
Oleh karena itu, berbagai tanda dibawah ini dapat dijadikan pedoman untuk mengevaluasi kecukupan pemberian ASI, yaitu :
•
Bayi menunjukan keinginan dan gairah
yang kuat untuk bangun secara teratur untuk menyusui.
•
Irama hisapan yang ritmis dan teratur,
bagian depan telinga bayi akan terlihat sedikit bergerak dan ibu bisa mendengar
bayinya menghisap dan menelan ASI yang diberikan.
•
Berikan ASI selama rata-rata 15-20 menit
pada masng-masing payudara setiap menyusui.
•
Berikan ASI setidaknya setiap 1-3 jam
selama dua bulan pertama. Disarankan juga untuk membangunkan bayi setiap 2-3
jam untuk memberikan ASI selama beberapa minggu awal. Setelah lebih dari dua
bulan bayi akan mampu menghabiskan ASI lebih cepat, maka pemberian ASI
dilakukan lebih jarang hingga setiap 3-5 jam dan durasi menyusui menjadi lebih
singkat.
•
Bayi ngompol hingga 6-8 kali menandakan
masukan cairan yang cukup.
•
Bayi tubuh dengan kecepatan pertumbuhan
yang normal, mengalami peningkatan berat, tinggi badan, dan ukuran lingkar
kepala.
•
Memiliki tonus otot yang baik, kulit
yang sehat dan warna kulit yang sehat pula
3.5 Tips
Sukses Asi Eksklusif
Ini tips dari aku yang
sukses ASI eksklusif sampai 6 bulan walaupun ASI-ku tidak termasuk yang
berlimpah dan sukses KB alamiah sampai si kecil 7 bulan.
1. Susui bayi
sesering mungkin. Payudara kanan dan kiri. Jangan dijadwalkan. Produksi ASI
mengikuti hukum permintaan, semakin sering dihisap, maka semakin banyak
berproduksi.
2. Pompa payudara
sehabis menyusui. Payudara yang kosong akan semakin mempercepat produksi
ASI.
3. Jangan terlalu
cepat memindahkan posisi menyusui dari payudara kiri ke kanan, dan sebaliknya.
ASI yang keluar setelah 15 menit pertama justru banyak
mengandung lemak yang dapat mengenyangkan bayi. Jangan lakukan
posisi menyusui tiduran sampe ketiduran kalau ibus punya kebiasaan
tidur “pingsan”. Bisa2 bayinya ketindihan dan gak bisa bernafas.
4. Makan makanan
yang bergizi dan minum cairan yang cukup banyak. Bisa air putih, jus buah, susu
rendah lemak, kuah makanan. Makanannya usahakan banyak sayur hijau dan
makanan laut. Daun katuk segar lebih cepat menghasilkan daripada suplemen
seperti Pro ASI atawa Lancar ASI. Jangan pikirkan diet dulu.
Melangsingkan tubuh bisa dilakukan kapan saja sementara menyusui
waktunya cuma sebentar sementara manfaat baiknya untuk bayi adalah
untuk kecerdasan dan daya tahan tubuhnya.
5. Minum madu juga
sangat bermanfaat
6. Ibu harus cukup
istirahat dan jangan stres! Stres bikin ASI mendadak kering.
7. Kalau bayi masih
tampak kurang puas juga, pompa ASI dan masukkan ke botol untuk diberikan ke
bayi. Tapi sebenarnya penggunaan dot tidak dianjurkan paling tidak sampai usia
bayi 6 bulan sebab dapat mengganggu perkembangan sistem syaraf dan
struktur tulang kepala.
8. Ini yang paling
penting, yaitu RASA PERCAYA DIRI bahwa kita MAMPU untuk memberikan yang terbaik
untuk bayi kita yaitu ASI.
Memberikan ASI eksklusif terutama sangat dianjurkan untuk bayi2 yang dilahirkan dengan cara caesar. Bayi “caesar” mengalami intensitas kesakitan yang sangat tinggi dibandingkan dengan bayi lahir normal yang sudah mengalami exercise dalam proses kelahiran sebelum khirnya muncul ke dunia dan beradaptasi dengan dunia luar. Dengan memberikan ASI, maka dapat membantu mencegah infeksi dan mengurangi rasa akit yang diderita bayi.
Memberikan ASI eksklusif terutama sangat dianjurkan untuk bayi2 yang dilahirkan dengan cara caesar. Bayi “caesar” mengalami intensitas kesakitan yang sangat tinggi dibandingkan dengan bayi lahir normal yang sudah mengalami exercise dalam proses kelahiran sebelum khirnya muncul ke dunia dan beradaptasi dengan dunia luar. Dengan memberikan ASI, maka dapat membantu mencegah infeksi dan mengurangi rasa akit yang diderita bayi.
BAB
IV
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
1. Air Susu Ibu
merupakan makanan yang terbaik bagi bayi yang harus diberikan pada bayi sampai
bayi berusia 4 bulan tanpa makanan pendamping.
2. Adanya
kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar persentase ASI
secara Eksklusif.
3. Masih rendahnya
tingkat pengetahuan ibu-ibu tentang pemberian ASI.
4.2 Saran
1. Perlu peningkatan
penyuluhan kesehatan secara umum khususnya tentang ASI dan menyusui kepada
masyarakat, khususnya kepada ibu hamil tentang gizi dan perawatan payudara
selama masa kehamilan, sehingga produksi ASI cukup.
2. Perlu ditingkatkan
peranan tenaga kesehatan baik di rumah sakit, klinik bersalin, Posyandu di
dalam memberikan penyuluhan atau petunjuk kepada ibu hamil, ibu baru melahirkan
dan ibu menyusui tentang ASI dan menyusui.
DAFTAR
PUSTAKA
Sumber : koleksi Mediague.wordpress.com
dikumpulkan oleh RW.Hapsari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan berpesan dan kasih masukan yang membangun buat blog ini tq