MAKALAH
PENYAKIT JANTUNG
KORONER
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
NAMA :
??????????
NIP :
??????????
KATA PENGANTAR
Puji
syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya,
sehingga
makalah ini dapat terselesaikan. Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk
memenuhi tugas DUPAK dalam kenaikan pangkat.
Sehubungan
dengan penyelesaian penelitian sampai dengan tersusunnya makalah ini, dengan
rasa rendah hati disampaikan rasa terimakasih yang setulustulusnya Semoga amal
baik dari semua pihak mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amin.
Disadari
bahwa makalah ini masih kurang sempurna oleh karena itu, kritik dan saran dari
semua pihak sangat diharapkan guna penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah
ini dapat bermanfaat.
Namang,
September 2012
Penyusun
DAFTAR ISI
JUDUL ....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang ..................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah ................................................................. 2
1.3
Tujuan ................................................................................... 2
BAB II .. PERMASALAHAN ................................................................. 3
BAB III TINJAUAN
PUSTAKA
3.1 Keluhan dan gejala penyakit
................................................ 4
3.2 Pemeriksaan penunjang (diagnosis)
...................................... 5
3.2 Faktor risiko
.......................................................................... 5
3.4 Cara Pencegahan
.................................................................. 6
3.5 Cara Pengobatan
................................................................... 6
3.6 Rehabilitatif
.......................................................................... 7
3.7 Prognosis .............................................................................. 7
BAB IV PENUTUP
4.1
kesimpulan .............................................................................. 9
4.2
Saran ....................................................................................... 9
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit jantung
koroner merupakan kasus utama penyebab
kematian dan kesakitan pada manusia. Meskipun tindakan pencegahan sudah
dilakukan seperti pengaturan makanan (diet), menurunkan kolesterol dan
perawatan berat badan, diabetes dan hipertensi, penyakit jantung koroner ini
tetap menjadi masalah utama kesehatan. Masalah utama pada penyakit jantung
koroner adalah aterosklerosis koroner. Merupakan penyakit progresif yang
terjadi secara bertahap yaitu penebalan dinding arteri koroner. Aterosklerosis
koroner dianggap sebagai proses pasif karena sebagian besar dihasilkan oleh
kolesterol yang berada pada dinding arteri (Yuet Wai Kan, 2000).
Penyakit jantung koroner merupakan
pembunuh nomor satu di negara-negara maju dan dapat juga terjadi di
negara-negara berkembang. Organisasi kesehatan duina (WHO) telah mengemukakan
fakta bahwa penyakit jantung koroner (PJK) merupakan epidemi modern dan tidak
dapat dihindari oleh faktor penuaan. Diperkirakan bahwa jika insiden PJK
mencapai nol maka dapat meningkatkan harapan hidup 3 sampai 9%
(Shivaramakrishna. 2010).
Gambaran kasus di atas menunjukkan
pentingnya penyakit ini yang belum mendapat perhatian mengenai besarnya resiko
seseorang, ketidakmampuan, hilangnya pekerjaan, dan pada saat masuk rumah
sakit. Pada dekade sekarang sejak konferensi klinis terakhir oleh New York
Heart Association atau asosiasi kesehatan New York menyatakan subjek ini, dari
sejumlah loka karya telah mengeluarkan informasi baru
yang penting mengenai penyakit ini, cara pencegahan dan kontrol. Hal ini
dinyatakan dalam besarnya perubahan yang jelas secara klinis dari PJK dan banyaknya faktor yang mungkin relevan, besarnya jumlah pasien
yang ikut, kelompok yang akan termasuk dalam semua kasus PJK
yang timbul pada populasi umum dengan karakteristik jelas.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah dari penyusunan makalah ini adalah :
1. Keluhan dan gejala penyakit
2. Pemeriksaan penunjang (diagnosis)
3. Faktor risiko
4. Cara pencegahan
5. Cara pengobatan
6. Rehabilitatif
7. Prognosis
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui Keluhan dan
gejala penyakit
2. Untuk mengetahui Pemeriksaan
penunjang (diagnosis)
3. Untuk mengetahui Faktor risiko
4. Untuk mengetahui Cara pencegahan
5.
Untuk mengetahui Cara pengobatan
6. Untuk
mengetahui Rehabilitatif
7. Untuk
mengetahui Prognosis
BAB
II
PERMASALAHAN
Penyakit jantung
koroner (PJK) merupakan
salah satu dari banyak penyakit yang mematikan dan sangat berbahaya bagi
kesehatan manusia. Data statistik dunia melaporkan tentang insiden terbesar dan
prevalensi PJK di dunia ternyata semakin meningkat. Menurut WHO diperkirakan
pada tahun 2005 tardapat 17,5 juta orang meninggal karena penyakit
kardiovaskuler, mewakili 30% dari seluruh kasus kematian di dunia. Dari
kematian ini, 7,6 juta diantaranya terkena serangan jantung dan 5,7 juta
diantaranya stroke (Cristoper. C ,2010).
Beban
PJK meningkat di India. Diperkirakan prevalensi PJK adalah sekitar 3-4% di
daerah pedesaan dan 8-11% di daerah perkotaan dan diantaranya adalah usia di
atas 20 tahun, mewakili dua kali lipat di daerah pedesaan dan enam kali lipat
di daerah perkotaan selama empat dekade terakhir. Pada tahun 2003 di India
mencapai 29,8 juta orang diperkirakan menderita PJK, 14,1 juta diantaranya
adalah di daerah perkotaan dan 15,7 juta di daerah pedesaan (Shivaramakrishna.
2010)
Hal
ini diperkirakan dua kali lipat dalam dua dekade mendatang, menjadikannya penyebab
utama terbesar kematian pada tahun 2020 Sementara penyebab utama PJK di India
masih diperdebatkan, dari sudut pandang kesehatan masyarakat terlihat jelas
bahwa peralihan pada pola makan (diet) dan gaya hidup dengan urbanisasi dapat
menjadi potensi meningkatnya resiko terkena PJK (Shivaramakrishna. 2010).
BAB
III
TINJAUAN
PUSTAKA
3.1 Keluhan dan gejala penyakit
Semua pasien PJK memiliki pengalaman dan
tanda-tanda secara fisik dan gejala PJK dari waktu ke waktu yaitu mengalami
perasaan nyeri di dada, kegelisahan atau perasaan sakit pada kaki, pinggang,
perut, tulang rusuk, rahang, sendi, tulang belakang, tenggorokan dan tulang
leher belakang, merasa lemah, lelah, dan kehilangan energi, nafas pendek,
pusing, sakit kepala, tidak mampu untuk melakukan pekerjaan dengan normal
sebagai akibat dari obesitas. Semua pasien PJK yang mendapat pengobatan atau
perawatan fisik sebelumnya sudah melakukan pengobatan mengenai asma, kegemukan,
tidak menentunya detak jantung, penyakit perdarahan jantung, paru-paru, ginjal
atau masalah pada spinal, rasa sakit pada kaki, diabetes atau arthritis.
Sebagian besar dari pasien PJK telah
aktif dengan kehidupan mereka sehari-hari, tetapi serangan jantung koroner
membuatnya tidak aktif, tidur, lemah, tidak berdaya, dan tergantung pada
pengobatan-pengobatan dan keluarga maupun tetangga untuk mendapatkan dukungan.
Secara psikologi, pasien PJK mengalami ketakutan yang luar biasa, kegelisahan,
khawatir dan depresi, sementara beberapa yang lain menjalani keadaan normal
pikiran dan mendengarkan berita-berita baru dari statusnya yang positif terkena
PJK. Sebagian besar dari pasien PJK merasa bosan dengan kehidupannya,
berlebihan dan di bawah emosional, mudah marah dan bermusuhan.
3.2 Pemeriksaan penunjang (diagnosis)
Diagnosis untuk penyakit jantung
koroner dapat
dilakukan dengan pemeriksaan fisik, anamnesis. Pemeriksaan USG jantung dapat
dilakukan dengan ekokardiografi. Sistem ekokardiografi dapat menampilkan,
menganalisa dan menangkap hati secara penuh dalam satu detak jantung.
Perkembangan teknologi telah menciptakan alat baru yaitu Computed tomography
(CT) yang sudah lama berperan penting dalam mendeteksi dini penyakit selama
bertahun-tahun. Semakin berkembangnya teknologi, sehingga dapat menciptakan
generasi baru dengan CT scanner yang dapat melakukan CT angiografi koroner
(CTA) dengan mengurangi dosis radiasi pada pemeriksaan klinis secara rutin.
Selain dengan CT juga dapat menggunakan
tes in vitro di laboratorium, melalui penggunaan biomarker baru yang tarutama
dalam perawatan darurat dapat mempengaruhi dan mendukung keputusan klinis. Pada
gagal jantung penggunaan natriuretik beredar-peptida B (BNP) sangat relevan,
karena tingkat biomarker ini adalah indikator yang baik untuk mengetahui sejauh
mana fungsi jantung terganggu. BNP digunakan baik untuk diagnosis awal dan
untuk pemantauan terapi. Pada beberapa pasien, serangan jantung menjadi
penyebab langsung insufisiensi jantung, sehingga deteksi cepat dari infark
miokard sangat penting dalam mencegah bertambah parahnya kerusakan miokard dan
kegagalan jantung selanjutnya. (Ekinci, 2010)
3.3 Faktor risiko
Faktor resiko utama pada PJK, yaitu
kolesterol tinggi, tingginya tekanan darah dan merokok. Kedua, faktor risiko
mencakup terganggunya metabolisme glukosa, sehingga menyebabkan insulin kembali
sistance dan dalam beberapa kasus diabetes. Pemahaman baru menemukan penyebab
lain yang dapat mengidentifikasi resiko penyakit jantung koroner, seperti
konsentrasi fibrinogen dan C-reaktif protein dalam darah.
Beberapa faktor psikososial berkaitan
dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner yaitu untuk bukti kuat
seperti stres kerja, kurangnya integrasi sosial, depresi, dan gejala depresi,
dengan sugestif sedangkan untuk bukti lemah seperti marah, konflik atau
perselisihan dan kegelisahan. Faktor ekonomi, pendidikan, isolasi sosial, dan
faktor-faktor psikososial yang lainnya merupakan penyebab tidak langsung penyakit
jantung koroner. Mereka tidak mempengaruhi penyakit patologi secara langsung,
tetapi melakukannya melalui proses yang lebih proksimal.
3.4 Cara pencegahan
Banyak upaya yang dilakukan oleh negara
berkembang untuk menjadi lebih baik, yaitu dilaksanakan pengadaan makanan dan
program gizi, program aktivitas fisik atau olahraga, anti merokok, program anti
hipertensi yang sebaiknya dipromosikan dengan segera.
Secara primer, program pencegahan secara
primordial mendapat prioritas tinggi sejak itu dan dapat diraih oleh popualsi
yang besar. Strategi ini melibatkan peran ibu dalam pendidikan kesehatan. Yang
kedua, seseorang dengan resiko tinggi dapat dicegah dengan melakukan pelayanan
kesehatan ke rumah sakit secara murah dan hal itu sebaiknya lebih ditingkatkan.
3.5 Cara pengobatan
Pada prinsipnya pengobatan
PJK ditujukan untuk agar terjadi
keseimbangan lagi antara kebutuhan oksigen jantung dan penyediaannya. Aliran
darah melalui arteri koronaria harus kembali ada dan lancar untuk jantung.
Pengobatan awal biasanya segera diberikan tablet Aspirin yang harus dikunyah.
Pemberian obat ini akan mengurangi pembentukan bekuan darah di dalam arteri
koroner. Pengobatan penyakit jantung koroner adalah meningkatkan suplai
(pemberian obat-obatan nitrat, antagonis kalsium) dan mengurangi demand
(pemberian beta bloker), dan yang penting mengendalikan risiko utama seperti
kadar gula darah bagi penderita kencing manis, optimalisasi tekanan darah,
kontrol kolesterol dan berhenti merokok.
Jika dengan pengobatan tidak dapat
mengurangi keluhan sakit dada, maka harus dilakukan tindakan untuk membuka
pembuluh koroner yang menyempit secara intervensi perkutan atau tindakan bedah
pintas koroner (CABG). Intervensi perkutan yaitu tindakan intervensi penggunaan
kateter halus yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah untuk dilakukan
balonisasi yang dilanjutkan pemasangan ring (stent) intrakoroner.
3.6 Rehabilitatif
Beberapa penyakit yang disebabkan oleh
kerusakan jantung, seperti penyakit pembuluh darah berat seringkali membutuhkan
terapi penanganan di luar terapi pengobatan meliputi kardiologi dan pembedahan.
Sampai sekarang, pergantian katup dengan operasi jantung dianjurkan dengan terapi
pendekatan kasus ini, tetapi banyak pasien lanjut usia bersamaan dengan
penyakit ini juga sangat beresiko. Penanaman katup nadi prosthesis menjadi
alternatif untuk pasien, dan dapat memberikan reaksi secara cepat untuk
perbaikan parameter kardiak. Secara keseluruhan, penyediaan peralatan teknik
yang dibutuhkan untuk akomodasi berbagai bidang di suatu laboratorium mungkin
diizinkan untuk kualitas terbaik dan lebih terjangkau, baik untuk pasien maupun
institusi.
3.7 Prognosis
Depresi pada pasien setelah mengalami
miokardial infarksion tampak gejala prognosis yang lebih penting dari penyakit
arteri koroner. Walaupun, gejala utamanya berlainan dengan peristiwa depresi
yang tidak luar biasa setelah miokardial infarksion, gejala depresi ini lebih
umum. Terdapat hubungan antara kejadian depresi dan resiko, pengaruh alami
dalam waktu yang panjang, dan kejadian depresi pada jarak waktu yang teratur,
hal ini menunjukkan bahwa depresi berlangsung terus-menerus pada karakteristik
psikologi. Komplikasi iskemia dan infark antara lain gagal jantung kongestif,
syok kardiogenik, disfungsi otot papilaris defek septum ventrikel, rupture
perdarahan masif di kantong jantung (dinding nekrotik yang tipis pecah
tamponade jantung), aneurisme ventrikel, tromboembolisme, pericardium perikarditis,
Sindrom Dressler, dan aritmia (Anonim, 2010).
BAB
IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Penyakit jantung
koroner (PJK) adalah
penyakit yng menyerang organ jantung. Gejala dan keluhan dari PJK hampir sama
dengan gejala yang dimiliki oleh penyakit jantung secara umum. Penyakit jantung
koroner juga salah satu penyakit yang tidak menular. Kejadian PJK terjadi
karena adanya faktor resiko yang antara lain adalah tekanan darah tinggi
(hipertensi), tingginya kolesterol, gaya hidup yang kurang aktivitas fisik
(olahraga), diabetes, riwayat PJK pada keluarga, merokok, konsumsi alkohol dan
faktor sosial ekonomi lainnya. Penyakit jantung koroner ini dapat dicegah
dengan melakukan pola hidup sehat dan menghindari fakto-faktor resiko.seperti
pola makan yang sehat, menurunkan kolesterol, melakukan aktivitas fisik dan
olehraga secara teratur, menghindari stress kerja.
4.2 Saran
1. Perlunya Upaya Kesehatan bagi Penderita
penyakit jantung koroner yakni melaksanakan upaya Promotif, Perilaku Hidup
Sehat, Upaya Preventif, Upaya Kuratif, dan Upaya Rehabilitatif,
2. Perlunya Program alternatif yang
lebih memperhatikan aspek psikologis penderita penyakit jantung koroner dengan
cara mengintegrasikan dengan program pemerintah yang lainnya.
3. Perlunya sosialisasi terhadap
seluruh kelompok umur masyarakat, agar lebih memahami karakteristik penderita
penyakit jantung koroner serta faktor resiko dan juga karakterisitik penyakit
pada penderita.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim. 2010. Ischemic Heart Disease –
IHD http://www.arupconsult.com/assets/print/IHD.pdf.
Diakses tanggal 19 November 2012.
Cristoper. C. 2010. The Experiences
of Coronary Heart Disease
Patients: Biopsychosocial Perspective.
http://www.waset.org/journals/ijpbs/v2/v2-4-31.pdf. Diakses tanggal 19 November
2012
Ekinci. 2010. Getting to the heart of
things http://www.siemens.com/press/pool/de/events/healthcare/2010-08-esc/heart_failure_expert_june2010.pdf
Shivaramakrishna. 2010. Risk Factors
of Coronary Heart Disease among Bank Employees of Belgaum City -
Cross-Sectional Study.http://ajms.alameenmedical.org/article_Vol03-2-apr-jun
2010/AJMS.3.2.152-159.pdf. Diakses tanggal 19 November 2012.
Yuet Wai Kan. 2000. Adeno-associated
viral vector-mediated vascular endothelial growth factor gene transfer
induces neovascular formation in ischemic heart. http://www.pnas.org/content/97/25/13801.full.pdf.
Diakses tanggal 19 November 2012.
Bagus makalahnya...
BalasHapusMaksih infonya...
Manfaat Susu Kambing bagi kesehatan jantung